Janji yang Tak Tertepati

____

Sudah berapa lama waktu yang telah kamu lewati, dengan janji hidup untuk saling memiliki, hingga pada akhirnya, dia ada hanya untuk dicintai bukan untuk dimiliki.

Musim terus berganti, dan sudah banyak sekali jalan-jalan yang telah kamu susuri, hingga perjalananmu menakdirkan pada sebuah janji. Perjanjian yang terikrar begitu erat pada sebuah ikatan yang tak pernah terikat. Kamu memberi percaya begitu dalam pada setiap langitan janjinya. Hingga kamu lupa bahwa tak selamanya janji tertepati.

Dia sudah berjalan bahagia bersama takdirnya, sedangkan kamu masih saja berteman bayangan tentangnya.

Sendumu mengudara disambut isak tangis tanpa suara.  Derai suara hujan diluar, kembali membuatmu mengintip genangan-genangan yang penuh dengan kenangan. Kabut tebal diluar sana menjadi selimut yang sengaja kamu letakkan pada sudut hatimu yang kian kaku. Hujan yang sejatinya membawa berkah namun kini hanya tentang isak tangisan yang semakin tumpah.

Hingga pada akhirnya kamu tersadar bahwa yang bisa kamu lakukan adalah menerima semua catatan takdir yang berkali-kali mengejutkanmu tanpa duga. 

Cobalah untuk belajar dari kisah Salman Al-Farisi yang merelakan perasaannya atas nama Allah SWT dan persaudaraan. Dan cobalah kembali untuk merenungi kisah Rasulullah SAW, yang pada masa itu belum Allah SWT angkat menjadi utusan-Nya, yang kemudian dengan penuh kerelaan menerima bahwa pinangan beliau di tolak. Hingga pada akhirnya Allah hadiahkan kepada beliau seorang perempuan yang mulia yang kelak akan menjadi pemimpin para perempuan di surga, dialah Sayyidah Khadijah Al-Kubro.

Lagi-lagi Allah SWT lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dia tidak akan pernah menjerumuskanmu dia pasti akan menyelamatkanmu. Allah SWT tau yang paling baik untukmu. Husnudzon-lah kepada tiap-tiap garis takdir yang Allah SWT tetapkan. Semuanya baik dan pasti jauh lebih baik dari yang kita prasangkakan.

Bukankah saat ini hatimu kembali belajar untuk lapang, meski kamu tau bahwa harapan di depan mata masih di ambang. Kali ini kamu sungguh harus merelakan. Tak peduli seberapa hatimu teriris perih namun air mata ini harus menjadi air mata yang jatuh untuk kali terakhir. Kamu harus kembali mengantarkan dia pulang seperti saat dulu kamu menjemputnya dengan lapang.

Tugasmu saat ini cukup mendo'akan agar perginya memberi berkah, sampai akhirnya do'amu mengangkasa terpeluk restu Allah dan semesta.

___

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arah Peradaban

Bahasa Rindu dari-Nya

Do'a