Ikhlas Paling Tulus
____
Ketika kamu berani untuk melabuhkan hati kepada manusia maka bersiaplah untuk patah. Karena sejatinya cinta selalu bersahabat dengan luka.
Mungkin saat ini kamu tengah merasakannya. Di balik kamar yang remang kamu meratapi semua ini, merasa bahwa ini hanya mimpi buruk. Semakin kamu memaksa untuk beranjak keluar semakin mimpi itu menyeretmu masuk tenggelam. Dan kamu terjebak di dalamnya, berharap untuk segera terbangun dari mimpi buruk yang menyesakkan ini.
Semakin kuat kamu berusaha, semakin kuat juga mimpi itu memaksa kamu masuk terperangkap didalamnya.
"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup?"
"Aku benar-benar tak bisa hidup tanpanya" suara lirih itu terdengar dari sudut bibirmu.
Kamu merasa hidup ini tak lagi bewarna seperti hari-hari sebelumnya, hidupmu seakan mendadak gelap tanpa sedikitpun cahaya. Dan kamu merasa tak punya lagi alasan untuk melanjutkan hidup.
Kini kamu tak lagi berdaya untuk melawan mimpi yang terlalu nyata ini, dan kamu memilih pasrah di tengah kelam yang menakutkan. Impian yang sudah kamu susun sedemikian rupa kini hanya tinggal kenangan.
Jadi, bagaimana perasaanmu tentang harapan yang sudah di nantikan ternyata hanya berisi omong kosong semata?
Dan bagaimana rasanya menaruh harapan kepada mahkluk yang bernama manusia? Menyakitkan bukan?
Sekarang kamu sadar bahwa melabuhkan kebahagiaan kepada manusia sama saja kamu memberi peluang kepada hatimu untuk patah. Belajarlah untuk menerima, mungkin ini bahasa rindu Allah kepadamu, karena sudah lama kamu melupakan-Nya.
Kamu pernah dengar tidak kisah Salman Al-Farisi sahabat dekat Rasullullah SAW. Beliau adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW dari golongan Muhajirin.
Suatu ketika, Salman Al-Farisi hendak mempersunting seorang perempuan dari golongan Anshar. Lantas dia mengajak sahabat dekatnya yaitu Abu Darda yang berasal dari golongan Anshar dengan harapan dia bisa untuk menjadi perantaranya, karena Abu Darda dirasa paham dengan adat dan seluk beluk di kota Madinah.
Singkat cerita, keduanya mendatangi kediaman perempuan tersebut, dan Abu Darda menyampaikan niatan baik dari Salman Al-Farisi kepada keluarga perempuan tadi. Dan niatan tersebut disambut hangat oleh perempuan tersebut dan keluarganya.
Namun, yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Perempuan tersebut menolak suntingan dari Salman Al-Farisi dan justru perempuan itu berkata "Namun, jikalau Abu Darda memiliki niatan yang sama, maka dengan senang hati saya akan menerimanya"
Duarrrrrrrr.....
Kalimat tersebut seketika membuat suasana menghening. Bagaimana tidak yang punya niatan adalah Salman Al-Farisi, namun yang diterima Abu Darda, orang yang dipercaya untuk menjadi perantaranya.
Namun, taukah kamu apa yang terjadi....
Karena iman yang dimiliki oleh Salman Al-Farisi. Dia dengan tegas berkata "Allahu Akbar, sungguh ini adalah kabar yang baik untuk kami dan kami senang mendengarnya".
Tak lama dia berkata kepada sahabatnya "Wahai Abu Darda kita dipersaudarakan karena Allah, maka tak ada apapun yang lebih tinggi dari persaudaraan kita."
Kemudian Salman Al-Farisi dengan senang hati memberikan mahar yang telah dia persiapkan tadi untuk diserahkan kepada Abu Darda sebagai maskawinnya dan dengan hati yang tulus dan rela dia menjadi saksi dari pernikahan sahabatnya itu.
Sebenarnya perasaan kecewa dan sedih seharusnya wajar bila dirasakan Salman Al-Farisi namun sedikitpun dia tidak melakukan hal itu. Dia ikhlas melepaskan perasaannya semata-mata karena ridha Allah yang dia harapkan.
Begitulah seharusnya sikap seorang muslim. Dimana dia meletakkan iman di atas segala-galanya. Bahkan perasaan pun mampu digadaikan dan tak berarti apapun selain keridhaan Allah kepadanya. Kehilangan seorang perempuan tidaklah berarti apa-apa asalkan dia tidak kehilangan Allah.
MasyaAllah...
Kisah tersebut kembali mengingatkan kepada kita untuk ridha, ikhlas dan tidak baper terhadap apapun yang telah Allah tetapkan pada diri kita.
Allah SWT lebih tau yang terbaik untuk kita, sementara kita tidak.
Jadi tentang patah hatimu,
Dunia akan tetap berjalan seperti biasanya tanpa peduli perasaan yang sedang kamu alami saat ini. Kamu harus tetap lanjut menyusuri perjalanan takdirmu.
Dengan dia atau tanpa dia, semuanya sama saja. Kamu tetap harus melanjutkan perjalanan hidupmu. Bukankah dulu kamu baik-baik saja bahkan sebelum dia datang di hidupmu?
Jangan mempersempit pikiranmu hanya karena ketakutan yang ada dalam dirimu. Bumi Allah begitu luas jangan pernah kecilkan harapanmu. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Kamu bisa berharap seluas-luasnya kepada Rabb-mu.
Komentar
Posting Komentar